Agresivitas Kolektif Dan Memudarnya Fungsi Keluarga di Era Modernisasi
JUDUL :
Agresivitas Kolektif Dan Memudarnya Fungsi Keluarga di Era Modernisasi
PENULIS :
Dr. Imam Suyitno, M.Si
SINOPSIS :
Agresivitas Kolektif dan Memudarnya Fungsi Keluarga merupakan dua (2) isu sosial yang kini menggejala di beberapa kota besar di Indonesia sebagai konsekuensi kota metropolitan dengan segala hiruk-pikuk kehidupannya yang nyaris berlangsung 24 jam. Potensi konflik sesungguhnya merupakan watak bawaan setiap manusia dari kecil hingga dewasa, dalam peradaban umat manusia kapanpun dan dimanapun berada. Sejarah umat manusia mencatat bahwa agresivitas manusia tidak dapat dihilangkan dari muka bumi ini, tatkala seorang anak belum fasih bicara, yang bersangkutan sudah bisa menjerit sekuatnya guna mengekspresikan kemarahannya lantaran mainannya diganggu, bahkan di saat telah menjadi pemimpin sebuah institusi sesekali masih saja memarahi anggotanya. Demikian halnya sebagai kelompok, suku, bahkan bangsa, hingga kini-pun manusia masih saja melakukan tindakan agresif satu sama lain. Ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa pada diri manusia tak pernah sanggup mengakhiri tindakan saling menyerang, bahkan obyek agresi sudah begitu meluas menyasar kepada orang-orang yang tak berdosa dan tak berdaya, seperti yang dialami anak-anak, wanita, orang tua, serta orang-orang yang tak bersenjata. Keluarga merupakan institusi paling tua di muka bumi ini yang kehadirannya memberikan kontribusi bagi pembentukan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial. Baik pada masyarakat tradisional maupun modern keberadaan lembaga ini tak bisa tergantikan oleh lembaga sosial manapun dalam menjalankan fungsinya. Nyaris berbagai fungsi dilakukan oleh bangunan struktur lama (keluarga), kini harus beralih ke bangunan strktur baru (lembaga sosial baru) untuk mengurusnya agar lebih efisien. Kini seiring proses kemajuan yang tak terhindarkan dimanapun, perlahan namun pasti lembaga keluarga mengalami degradasi (penyusutan), sebagai konsekwensi modernisasi yang menggerus peradaban (civilization) tanpa bisa membendungnya. Buku ini hadir untuk mengisi relung kosong agar menjadi semacam dialektika eksistensi keluarga sebagai fakta sosial (social fact). Semoga