Kurikulum sebagai Produk Zaman: Transformasi Pendidikan Menengah Menuju Pembelajaran Mendalam
JUDUL :
Kurikulum sebagai Produk Zaman: Transformasi Pendidikan Menengah Menuju Pembelajaran Mendalam
PENULSI :
Ni Nyoman Parmithi
I Wayan Eka Mahendra
I Made Citra Wibawa
Anak Agung Putu Sugiantiningsih
Ni Putu Sri Ratna Dewi
I Wayan Surata
Kurikulum di Indonesia kerap hadir dengan semangat pembaruan—menjanjikan mutu, arah yang lebih jelas, dan kemerdekaan belajar. Namun di ruang kelas, perubahan itu sering tereduksi menjadi beban administratif: istilah baru, format baru, dokumen baru, tanpa transformasi mendasar pada praktik pembelajaran. Buku ini lahir dari kegelisahan atas jurang antara kurikulum tertulis dan realitas pedagogi di pendidikan menengah.
Melacak perjalanan kurikulum nasional sejak Rentjana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka, buku ini memetakan dinamika politik, sosial, dan epistemologis yang membentuk wajah pendidikan Indonesia. Tidak berhenti pada narasi historis, buku ini mengkritisi sisi gelap reformasi kurikulum—pedagogi ceramah yang stagnan, penilaian dangkal, budaya “menghabiskan materi”, hingga obsesi pada indikator dan ceklis kompetensi yang miskin makna.
Dengan memanfaatkan kolaborasi reflektif antara nalar manusia dan teknologi Artificial Intelligence (AI), buku ini menghadirkan analisis yang tajam dan komprehensif terhadap pola kebijakan lintas dekade. Di tengah kritik tersebut, penulis menawarkan paradigma Pembelajaran Mendalam (deep learning) sebagai koreksi radikal: pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful; yang mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga; serta menempatkan pemahaman dan pembentukan karakter di atas sekadar ketuntasan materi.
Ditujukan bagi guru, kepala sekolah, pengambil kebijakan, mahasiswa pendidikan, dan peneliti, buku ini menjadi undangan reflektif untuk menggeser percakapan tentang kurikulum—dari sekadar nama dan format menuju kualitas pengalaman belajar yang autentik. Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan menengah Indonesia tidak ditentukan oleh dokumen kurikulum semata, melainkan oleh keberanian menghidupkannya dalam praktik pembelajaran yang benar-benar memanusiakan dan membentuk generasi berpikir kritis, berempati, dan berdaya saing.